Total Tayangan Halaman

Kamis, 10 Maret 2016

MONDOK IS A TRUE WAY

Assalamu’alaikum Wr.Wb

        Aku dilahirkan dari keluarga yang sederhana, tinggal disebuah desa yang begitu asri nun jauh dari keramaian kota. Aku kecil menghabiskan waktu dengan bermain, layaknya anak desa pada umumnya. Sungguh masa kecil yang menyenangkan jika dibandingkan dengan masa sekarang dimana masa kecil mereka hanya disuguhkan dengan kecanggihan teknologi. Aku beruntung dulu pernah bermain loncat tali, petak umpet, Donal bebek, dan kawan-kawannya.
       Tak ada yang menonjol dariku, masih polos sama seperti temanku yang lain. rutinitasku pun hanya sekolah dan bermain, dan satu lagi mengaji. Aku bersyukur sudah dikenalkan orang tuaku pada dunia agama diusia SD. Ya walaupun mengaji di TPA desaku hanya cukup membahas huruf hijayyah, tapi aku berterima kasih pada semua guruku sehingga kini aku bisa membaca Al qur’an dengan lancar. Keluargaku bukanlah sosok yang fanatic masalah agama , bagi mereka prioritas utama tetaplah pendidikan. Aku pun juga merasa begitu, bagiku mengaji hanyalah sambilan saja. Aku mengaji dari kelas 2 SD sampai dengan 1 SMP, jujur aku adalah pribadi yang malas, kalau kuingat-ingat lagi aku pernah bolos ngaji hampir seminggu, selain itu aku juga ingat aku pernah semangat ngaji karena seseorang bukan karena Allah Ta’ala. Jika kembali kemasa lalu rasanya sungguh aku sangat berdosa  karena memiliki niat yang salah, waktu itu aku semangat ngaji karena selalu ingin bertemu dengan si A yang dulu begitu dekat denganku, namun aku mulai sadar kalau semua yang kulakukan dulu adalah sesuatu yang bodoh.
              Setelah sekian tahun mengaji akhirnya aku pun di wisuda karena sudah khatam. Seharusnya setelah acara wisuda itu, aku tetap ada kelas mengaji. Namun kai ini bukan lagi ngaji Alqur’an, melainkan ngaji kitab. Okelah aku menikmati proses yang ada. aku hanya mengikuti kelas ngaji kitab sekitar dua bulanan, karena saat itu kurasa aku harus fokus pada sekolahku, ditambah lagi banyak teman-temanku yang berhenti dengan berbagai alasan. Fix, akhirnya imanku pun kalah dan aku berhenti mengaji di TPA lagi.
Hari-hariku didunia SMP begitu menyenangkan, punya teman banyak, ketawa ketiwi, bermain. Ah sungguh masa-masa yang jika bisa diulang akupun mau mengulangnya. Rutinitasku masih sama seperti temanku lainnya, namun ada satu yang kurang. Rutinitasku mengaji dulu, kini telah hilang.  Semasa SMP aku lebih sering belajar, mengerjakan tugas, pergi les sana sini dengan temanku, hal ini kulakukan karena aku sudar aku masuk dalam sekolah yang sudah lama kuidamkan sehingga menurutku aku tak boleh menyia-nyiakannya dengan bermain saja. Hingga tanpa terasa masa putih biruku akan segera berakhir, aku ingat dulu sewaktu SD aku pernah membuat sebuah planning masa depan, kemana aku harus melanjutkan SMP, dimana aku akan melanjutkan SMA, bahkan aku merancangnya sampai kemana dan jurusan apa yang akan kuambil saat kuliah nanti. *hah lucu rasanya jika mengingat tingkahku dulu.
           Hari-hariku kini lebih disibukkan dengan ujian,ujian dan ujian. Aku sempat merasa galau, bingung, bimbang kemana aku akan melanjutkan sekolahku. Jika aku masih bersikeras dengan pilihanku apalah daya jika orangtua lebih menyukai aku bersekolah di tempat yang seharusnya tak pernah kuidamkan. Pernah di suatu sore yang syahdu bapakku berkata,” nduk, nanti kalau sudah lulus SMP kamu mondok ya? Jadi kamu melanjutkan SMA di pesantren”. Hah? Apa? Mondok pikirku, dari dulu aku tak pernah membayangkan hidup di pesantren ,bahkan aku cenderung takut dan gak akan mau masuk kesana.
“ mondok pak? Enggak ah pak, aku gak mau” jawabku tegas
“ loh kenapa? Di pondok itu enak lho kamu bisa dapat ilmu dunia lan akhirat”, kata bapak terus mendesakku,
“ enggak pak, pokoknya aku gak mau, aku mau sekolah disini, di sekolah normal seperti temanku yang lainnya”. Aku masih bersikeras dengan jawabanku.
           Entahlah apa yang ada di pikiranku saat itu, aku sama sekali tak memiliki pengetahuan tentang dunia “Mondok”. Bagiku mondok itu adalah sesuatu yang menakutkan, jauh dari keluarga, makan seadanya, kumuh dan kotor, dan pasti sumpek karena hidup dengan banyak orang. Aku segera menepis jauh-jauh keinginan bapak untuk menyuruhku mondok. Aku tetap optimis dengan SMA negeri di daerahku. Bapak sudah bisa mengalah dengan keinginanku yang menolak untuk dipondokkan, namun   setelah berdiskusi sekian lama dengan pertimbangan berbagai alasan, aku pun kalah dan harus memilih mengikuti saran orang tuaku. Yaa setidaknya aku bersyukur karena pilihan orangtuaku yang kedua ini tidak mengharuskan ku mondok, rasanya senaaang sekali.
              Berkas berkas yang kubutuhkan untuk mendaftar telah ready. Singkat cerita aku menjalani serangkaian tes, namun mungkin ini bukan rejekiku ya yaya aku gagal masuk di sekolah pilihan orang tuaku, namun aku masih Nampak santai karena dari dulu pun aku tak pernah minat masuk disitu. *namun kalian jangan menganngap aku sengaja merencanakan ini semua, bukan ini real takdir Allah kok. Tenaaang.
Akhirnya ku pun masuk kesekolah lain. ternyata masa putih abu-abu lebih menyenangkan ya, dari situ aku mulai tumbuh besar, sudah mengerti  hal-hal yang sebelumnya tak ku mengerti. Sejak saat itu aku juga mulai aktif dalam dunia organisasi. Bagiku hidup di dunia organisasi itu mengasyikkan, dapat pengalaman baru, nambah teman, dan pastinya nambah solidaritas antar teman sih, dari situ kita bisa lihat siapa yang teman dan siapa yang lawan (?)
              Hari hariku di SMA berjalan normal dan ya cukup menyenangkan lah, tahun demi tahun telah kulewati. Tiba-tiba saat kelas XI aku dapat kabar kalau salah satu temenku SMP yang dulunya nakal sekarang jadi alim dan solihah berkat mondok. Nah sejak itu aku mulai berpikir lagi dan mengingat pesan bapakku dulu. Tiba-tiba pikiranku pun terngiang-ngiang dan memikirkan sebuah penyesalan. “ oh yaa kenapa dulu aku gak mondok aja ya?, kalau dulu aku mondok pastii aku biisa kaya dia” ucapku dalam hati. Saat itu aku benar-benar merasa ingin mondok, namun apalah daya sebentar lagi aku sudah kelas XII. Dalam hatiku berkata percuma, toh ya sebentar lagi kamu bakalan lulus. Okeeh aku pun menepis kembali rasa penyesalanku,. Namun aku masih ingat betul dulu sewaktu SMA aku pernah berkata pada diriku sendiri, kalau misalnya suatu hari nanti aku bisa kuliah, aku akan kuliah sekaligus mondok.

Dan eng ing eng……
                  Masa putih abu-abu ku telah berakhir, kini aku harus melanjutkan ke jenjang berikutnya, berbagai proes yang begitu panjang dan melelahkan telah kujalani. Jatuh bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi, begitu teruus sampai hari ini Alhamdulillah aku berhasil berdiri tegap dan melanjutkan pendidikan ku di Universitas Negeri Surabaya. Dan satu lagi yang benar-benar membuatku bahagia, aku bisa merealisasikan salah satu mimpiku yakni kuliah sekaligus mondok. Sungguh rasanya ini seperti mimpi. akhirnya Ku putuskan untuk mondok di Ponpes Sabilillah Surabaya.
Perlahan kumasuki gerbang pondok, hatiku deg-degan sembari terus membayangkan sepreti apa ya keadaan didalam pondok (?) aku bakal betah gak ya (?). entah berapa banyak pertanyaan yang kucoba untuk menerka jawabannya sendiri. Maklumlah aku Cuma lulusan SMA yang tak pernah sekalipun melangkahkan kaki ke dalam pondok pesantren.   Hari itu hari perpisahanku dengan keluarga, istilah pondoknya hari itu adalah hariku untuk boyong. Sedih rasanya melihat keluargaku perlahan meninggalkan gerbang pondok, rasanya aku ingin ikut pulang saja, namun aku mencoba untuk menenangkan diriku. 
                Sejak saat itu aku merasa memiliki dua gelar yakni Mahasiswa dan Mahasantri (?). ketika memasuki kamar aku sudah meihat beberapa anak yang senasib denganku, kami mulai beradaptasi satu sama lain hingga sampai saat ini kamipun sudah saling akrab. Oh ya teman-temanku berasal dari berbagai daerah di jawa Timur dan Jawa Tengah, dan yang lebih menggembirakan kami berasal dari prodi yang berbeda-beda yang tentunya akan lebih memudahkan kami untuk sharing-sharing. Oh ya, kamarku berada di lantai dua yang disebut kamar Madinah, rata-rata teman sekamarku juga maba. Sedangkan dua kamar dibawah disebut kamar Mesir dan Abasiyah yang ditempati mbak-mbak semester tua.
               Aku sangat bersyukur bisa menikmati dunia pondok yang baru berjalan sekitar tujuh bulanan. Ternyata hidup dipondok tak seburuk yang ku bayangkan. Bahkan disini nikmaaat sekali. Berbagai kegiatan pondok kami jalani bersama dengan suka cita. Tiap kali masuk waktu sholat, kami dibangunkan dengan suara bel yang aku masih ingat terakhir kali kudengar suara Bel macam itu saat aku masih SD dulu, bahkan bunyinya lebih nyaring lagi. Jika telah terdengar bel seperti itu tandanya kami harus segera bergegas ke masjid untuk menunaikan  sholat jama’ah. Yang lebih seru lagi disini ada istilah TA’ZIR atau semacam hukuman bagi santri yang tidak mengikuti jamaah. Hal-hal seperti itu merupakan tugas dari Badan Tarbiyah, yang cukup mengesalkan bagi beberapa santri yang yang mendapat embel-embel “mbeling”. Namun tak bisa ku pungkiri aku pernah sekali menjadi peserta Ta’zir itu. Bagi santri putri ta’ziran dilakukan di lantai dua namun bersebelahan dengan pondok putra jadi ada kemungkinan kami dipermalukan didepan santri putra (meskipun kecil kemungkinan tapi tetap berpotensi).                 Sedangkan ta’zir bagi santri putra dilakukan tepat didepan gerbang pondok yang sangat –sangat berpotensi  menimbulkan rasa malu sebab tidak hanya dilihat santri putri saja, melainkan juga mahasiswa lain yang sengaja untuk berangkat kuliah dan lewat depan pondok. Lalalala. Bentuk ta’zir jika meninggalkan ibadah wajib yaitu dengan membaca surat Yasin sedangkan jika meninggalkan ibadah Sunnah diharuskan membaca Al-Waqiah.
               Meskipun pernah mendapat ta’zir tapi aku tetap senang karena merasa punya pengalaman baru. Selain ta’ziran. Aktivitas kami dipondok juga cukup banyak, yaitu ngaji kitab ba’da Subuh, ngaji kitab malam (menyesuaikan kehadiran Ustad), Muroja’ah (ngaji bareng per kelompok), Diba’an tiap malam Jum’at, setoran surat, dilanjutkan Ngaji huruf pegon bagi santri yang berminat, ada lagi ekstra Banjari yang sangat memikatku karena semua personilnya memiliki suara yang subhanallah merdu sekali. Aku sangat semangat sekali ketika sholat subuh, entah magnet apa yang menarikku untuk segera bergegas ke masjid, mungkin hal ini Karena salah satu santri putra dengan suara khasnya melantunkan sebuah pujian yang khas di tiap subuh yang bisa membuatku merinding  saking enaknya, sejak saat itu aku selalu kagum dengan laki-laki yang bisa melantunkan pujian ataupun sholawat dengan suara merdunya.  
               Entahlah masih banyak sekali kegiatan pondok baik itu harian atau pun bulanan. Selama itu tidak mengganggu jam kuliah ataupun belajarku, aku tetap berusaha mengikuti dan menikmatinya. Sampai pada baris-baris tulisanku ini andai bisa memutar waktu aku akan menghabiskan waktuku didunia pondok lebih lama lagi, aku pasti akan menyetujui permintaaan bapakku jika ku ketahui rasanya senikmat ini. Entah sudah berapa banyak suka dan duka yang kualami selama ini, yang pasti bagi kalian yang memiliki pandangan buruk terhadap dunia pondok pesantren, kutegaskan lagi ternyata mondok itu enak, dan banyak sekali barokah yang bisa kau dapatkan di dalamnya. Jangan pernah ragu untuk masuk kedalamnya, justru disana kamu akan merasa bangga karena tidak semua orang berksempatan mendapatkan ilmu dunia dan akhirat seperti kamu. Jadilah santri yang ngabdi, Insya Allah barokah yang akan kau dapati. Allahu ‘Alam Biishhowab

 #AyoMondok #SantriKeren #MondokBerkah #MugiBarokah #KamarMadinah #PonpesSabilillah #El-Sabil #DariSantriUntukNegeri #PenjaraSuci
  



Tuban,10 Maret  2016

2 komentar: