MONDOK
IS A TRUE WAY
Assalamu’alaikum
Wr.Wb
Aku
dilahirkan dari keluarga yang sederhana, tinggal disebuah desa yang begitu asri
nun jauh dari keramaian kota. Aku kecil menghabiskan waktu dengan bermain,
layaknya anak desa pada umumnya. Sungguh masa kecil yang menyenangkan jika
dibandingkan dengan masa sekarang dimana masa kecil mereka hanya disuguhkan
dengan kecanggihan teknologi. Aku beruntung dulu pernah bermain loncat tali,
petak umpet, Donal bebek, dan kawan-kawannya.
Tak
ada yang menonjol dariku, masih polos sama seperti temanku yang lain.
rutinitasku pun hanya sekolah dan bermain, dan satu lagi mengaji. Aku bersyukur
sudah dikenalkan orang tuaku pada dunia agama diusia SD. Ya walaupun mengaji di
TPA desaku hanya cukup membahas huruf hijayyah, tapi aku berterima kasih pada
semua guruku sehingga kini aku bisa membaca Al qur’an dengan lancar. Keluargaku
bukanlah sosok yang fanatic masalah agama , bagi mereka prioritas utama
tetaplah pendidikan. Aku pun juga merasa begitu, bagiku mengaji hanyalah
sambilan saja. Aku mengaji dari kelas 2 SD sampai dengan 1 SMP, jujur aku
adalah pribadi yang malas, kalau kuingat-ingat lagi aku pernah bolos ngaji
hampir seminggu, selain itu aku juga ingat aku pernah semangat ngaji karena
seseorang bukan karena Allah Ta’ala. Jika kembali kemasa lalu rasanya sungguh
aku sangat berdosa karena memiliki niat
yang salah, waktu itu aku semangat ngaji karena selalu ingin bertemu dengan si
A yang dulu begitu dekat denganku, namun aku mulai sadar kalau semua yang
kulakukan dulu adalah sesuatu yang bodoh.
Setelah
sekian tahun mengaji akhirnya aku pun di wisuda karena sudah khatam. Seharusnya
setelah acara wisuda itu, aku tetap ada kelas mengaji. Namun kai ini bukan lagi
ngaji Alqur’an, melainkan ngaji kitab. Okelah aku menikmati proses yang ada.
aku hanya mengikuti kelas ngaji kitab sekitar dua bulanan, karena saat itu
kurasa aku harus fokus pada sekolahku, ditambah lagi banyak teman-temanku yang
berhenti dengan berbagai alasan. Fix, akhirnya imanku pun kalah dan aku
berhenti mengaji di TPA lagi.
Hari-hariku
didunia SMP begitu menyenangkan, punya teman banyak, ketawa ketiwi, bermain. Ah
sungguh masa-masa yang jika bisa diulang akupun mau mengulangnya. Rutinitasku
masih sama seperti temanku lainnya, namun ada satu yang kurang. Rutinitasku
mengaji dulu, kini telah hilang. Semasa
SMP aku lebih sering belajar, mengerjakan tugas, pergi les sana sini dengan temanku,
hal ini kulakukan karena aku sudar aku masuk dalam sekolah yang sudah lama
kuidamkan sehingga menurutku aku tak boleh menyia-nyiakannya dengan bermain
saja. Hingga tanpa terasa masa putih biruku akan segera berakhir, aku ingat
dulu sewaktu SD aku pernah membuat sebuah planning masa depan, kemana aku harus
melanjutkan SMP, dimana aku akan melanjutkan SMA, bahkan aku merancangnya
sampai kemana dan jurusan apa yang akan kuambil saat kuliah nanti. *hah lucu
rasanya jika mengingat tingkahku dulu.
Hari-hariku
kini lebih disibukkan dengan ujian,ujian dan ujian. Aku sempat merasa galau,
bingung, bimbang kemana aku akan melanjutkan sekolahku. Jika aku masih
bersikeras dengan pilihanku apalah daya jika orangtua lebih menyukai aku
bersekolah di tempat yang seharusnya tak pernah kuidamkan. Pernah di suatu sore
yang syahdu bapakku berkata,” nduk, nanti kalau sudah lulus SMP kamu mondok ya?
Jadi kamu melanjutkan SMA di pesantren”. Hah? Apa? Mondok pikirku, dari dulu
aku tak pernah membayangkan hidup di pesantren ,bahkan aku cenderung takut dan
gak akan mau masuk kesana.
“
mondok pak? Enggak ah pak, aku gak mau” jawabku tegas
“
loh kenapa? Di pondok itu enak lho kamu bisa dapat ilmu dunia lan akhirat”,
kata bapak terus mendesakku,
“
enggak pak, pokoknya aku gak mau, aku mau sekolah disini, di sekolah normal
seperti temanku yang lainnya”. Aku masih bersikeras dengan jawabanku.
Entahlah
apa yang ada di pikiranku saat itu, aku sama sekali tak memiliki pengetahuan
tentang dunia “Mondok”. Bagiku mondok itu adalah sesuatu yang menakutkan, jauh
dari keluarga, makan seadanya, kumuh dan kotor, dan pasti sumpek karena hidup
dengan banyak orang. Aku segera menepis jauh-jauh keinginan bapak untuk
menyuruhku mondok. Aku tetap optimis dengan SMA negeri di daerahku. Bapak sudah
bisa mengalah dengan keinginanku yang menolak untuk dipondokkan, namun setelah berdiskusi sekian lama dengan
pertimbangan berbagai alasan, aku pun kalah dan harus memilih mengikuti saran
orang tuaku. Yaa setidaknya aku bersyukur karena pilihan orangtuaku yang kedua
ini tidak mengharuskan ku mondok, rasanya senaaang sekali.
Berkas
berkas yang kubutuhkan untuk mendaftar telah ready. Singkat cerita aku
menjalani serangkaian tes, namun mungkin ini bukan rejekiku ya yaya aku gagal
masuk di sekolah pilihan orang tuaku, namun aku masih Nampak santai karena dari
dulu pun aku tak pernah minat masuk disitu. *namun kalian jangan menganngap aku
sengaja merencanakan ini semua, bukan ini real takdir Allah kok. Tenaaang.
Akhirnya
ku pun masuk kesekolah lain. ternyata masa putih abu-abu lebih menyenangkan ya,
dari situ aku mulai tumbuh besar, sudah mengerti hal-hal yang sebelumnya tak ku mengerti.
Sejak saat itu aku juga mulai aktif dalam dunia organisasi. Bagiku hidup di
dunia organisasi itu mengasyikkan, dapat pengalaman baru, nambah teman, dan
pastinya nambah solidaritas antar teman sih, dari situ kita bisa lihat siapa
yang teman dan siapa yang lawan (?)
Hari
hariku di SMA berjalan normal dan ya cukup menyenangkan lah, tahun demi tahun
telah kulewati. Tiba-tiba saat kelas XI aku dapat kabar kalau salah satu
temenku SMP yang dulunya nakal sekarang jadi alim dan solihah berkat mondok.
Nah sejak itu aku mulai berpikir lagi dan mengingat pesan bapakku dulu. Tiba-tiba
pikiranku pun terngiang-ngiang dan memikirkan sebuah penyesalan. “ oh yaa
kenapa dulu aku gak mondok aja ya?, kalau dulu aku mondok pastii aku biisa kaya
dia” ucapku dalam hati. Saat itu aku benar-benar merasa ingin mondok, namun
apalah daya sebentar lagi aku sudah kelas XII. Dalam hatiku berkata percuma,
toh ya sebentar lagi kamu bakalan lulus. Okeeh aku pun menepis kembali rasa
penyesalanku,. Namun aku masih ingat betul dulu sewaktu SMA aku pernah berkata
pada diriku sendiri, kalau misalnya suatu hari nanti aku bisa kuliah, aku akan
kuliah sekaligus mondok.
Dan
eng ing eng……
Masa
putih abu-abu ku telah berakhir, kini aku harus melanjutkan ke jenjang
berikutnya, berbagai proes yang begitu panjang dan melelahkan telah kujalani. Jatuh
bangun lagi, jatuh lagi, bangun lagi, begitu teruus sampai hari ini
Alhamdulillah aku berhasil berdiri tegap dan melanjutkan pendidikan ku di
Universitas Negeri Surabaya. Dan satu lagi yang benar-benar membuatku bahagia,
aku bisa merealisasikan salah satu mimpiku yakni kuliah sekaligus mondok. Sungguh
rasanya ini seperti mimpi. akhirnya Ku putuskan untuk mondok di Ponpes
Sabilillah Surabaya.
Perlahan
kumasuki gerbang pondok, hatiku deg-degan sembari terus membayangkan sepreti
apa ya keadaan didalam pondok (?) aku bakal betah gak ya (?). entah berapa
banyak pertanyaan yang kucoba untuk menerka jawabannya sendiri. Maklumlah aku Cuma
lulusan SMA yang tak pernah sekalipun melangkahkan kaki ke dalam pondok
pesantren. Hari itu hari perpisahanku
dengan keluarga, istilah pondoknya hari itu adalah hariku untuk boyong. Sedih rasanya
melihat keluargaku perlahan meninggalkan gerbang pondok, rasanya aku ingin ikut
pulang saja, namun aku mencoba untuk menenangkan diriku.
Sejak
saat itu aku merasa memiliki dua gelar yakni Mahasiswa dan Mahasantri (?).
ketika memasuki kamar aku sudah meihat beberapa anak yang senasib denganku,
kami mulai beradaptasi satu sama lain hingga sampai saat ini kamipun sudah saling
akrab. Oh ya teman-temanku berasal dari berbagai daerah di jawa Timur dan Jawa
Tengah, dan yang lebih menggembirakan kami berasal dari prodi yang berbeda-beda
yang tentunya akan lebih memudahkan kami untuk sharing-sharing. Oh ya, kamarku
berada di lantai dua yang disebut kamar Madinah, rata-rata teman sekamarku juga
maba. Sedangkan dua kamar dibawah disebut kamar Mesir dan Abasiyah yang
ditempati mbak-mbak semester tua.
Aku
sangat bersyukur bisa menikmati dunia pondok yang baru berjalan sekitar tujuh
bulanan. Ternyata hidup dipondok tak seburuk yang ku bayangkan. Bahkan disini
nikmaaat sekali. Berbagai kegiatan pondok kami jalani bersama dengan suka cita.
Tiap kali masuk waktu sholat, kami dibangunkan dengan suara bel yang aku masih
ingat terakhir kali kudengar suara Bel macam itu saat aku masih SD dulu, bahkan
bunyinya lebih nyaring lagi. Jika telah terdengar bel seperti itu tandanya kami
harus segera bergegas ke masjid untuk menunaikan sholat jama’ah. Yang lebih seru lagi disini
ada istilah TA’ZIR atau semacam hukuman bagi santri yang tidak mengikuti
jamaah. Hal-hal seperti itu merupakan tugas dari Badan Tarbiyah, yang cukup
mengesalkan bagi beberapa santri yang yang mendapat embel-embel “mbeling”. Namun
tak bisa ku pungkiri aku pernah sekali menjadi peserta Ta’zir itu. Bagi santri
putri ta’ziran dilakukan di lantai dua namun bersebelahan dengan pondok putra
jadi ada kemungkinan kami dipermalukan didepan santri putra (meskipun kecil
kemungkinan tapi tetap berpotensi). Sedangkan
ta’zir bagi santri putra dilakukan tepat didepan gerbang pondok yang sangat –sangat
berpotensi menimbulkan rasa malu sebab
tidak hanya dilihat santri putri saja, melainkan juga mahasiswa lain yang
sengaja untuk berangkat kuliah dan lewat depan pondok. Lalalala. Bentuk ta’zir
jika meninggalkan ibadah wajib yaitu dengan membaca surat Yasin sedangkan jika
meninggalkan ibadah Sunnah diharuskan membaca Al-Waqiah.
Meskipun
pernah mendapat ta’zir tapi aku tetap senang karena merasa punya pengalaman
baru. Selain ta’ziran. Aktivitas kami dipondok juga cukup banyak, yaitu ngaji
kitab ba’da Subuh, ngaji kitab malam (menyesuaikan kehadiran Ustad), Muroja’ah
(ngaji bareng per kelompok), Diba’an tiap malam Jum’at, setoran surat, dilanjutkan
Ngaji huruf pegon bagi santri yang berminat, ada lagi ekstra Banjari yang
sangat memikatku karena semua personilnya memiliki suara yang subhanallah merdu
sekali. Aku sangat semangat sekali ketika sholat subuh, entah magnet apa yang
menarikku untuk segera bergegas ke masjid, mungkin hal ini Karena salah satu
santri putra dengan suara khasnya melantunkan sebuah pujian yang khas di tiap
subuh yang bisa membuatku merinding saking enaknya, sejak saat itu aku selalu
kagum dengan laki-laki yang bisa melantunkan pujian ataupun sholawat dengan
suara merdunya.
Entahlah masih banyak
sekali kegiatan pondok baik itu harian atau pun bulanan. Selama itu tidak
mengganggu jam kuliah ataupun belajarku, aku tetap berusaha mengikuti dan
menikmatinya. Sampai pada baris-baris tulisanku ini andai bisa memutar waktu
aku akan menghabiskan waktuku didunia pondok lebih lama lagi, aku pasti akan
menyetujui permintaaan bapakku jika ku ketahui rasanya senikmat ini. Entah sudah
berapa banyak suka dan duka yang kualami selama ini, yang pasti bagi kalian
yang memiliki pandangan buruk terhadap dunia pondok pesantren, kutegaskan lagi
ternyata mondok itu enak, dan banyak sekali barokah yang bisa kau dapatkan di
dalamnya. Jangan pernah ragu untuk masuk kedalamnya, justru disana kamu akan
merasa bangga karena tidak semua orang berksempatan mendapatkan ilmu dunia dan
akhirat seperti kamu. Jadilah santri yang ngabdi, Insya Allah barokah yang akan
kau dapati. Allahu ‘Alam Biishhowab
#AyoMondok #SantriKeren #MondokBerkah #MugiBarokah
#KamarMadinah #PonpesSabilillah #El-Sabil #DariSantriUntukNegeri #PenjaraSuci
Tuban,10 Maret 2016