PEJUANG YUDISIUM
Ketika sang rembulan
Mulai beranjak ke peraduan
Nampak seberkas cahaya merah, nan
sendu
Membalikkan kegelapan menuju sebuah
harapan
Dibalik
gubuk itu,
Kulihat,
kuamati lagi dengan pasti
Kukira
seonggok, oh ternyata bukan
Ternyata
seseorang
Seseorang dengan jiwa pemenang
Wajahnya yang tenang senantiasa
memberi kedamaian
Kakinya tak pernah lelah, terus
melangkah
Satu kilometer, dua kilometer,atau
bahkan lebih
Ah itu sudah jadi santapannya
Ribuan kilometer pun nampaknya sanggup
ia lakoni
Baginya pepatah ada satu, tuntutlah
ilmu sampai ke negeri Cina
Dengan
sekuat tenaga, ia kayuh onthel tuanya
Dandanannya
sederhana,
Sosoknya
bukanlah anak bangsawan, apalagi anggota
legislasi
Cukup
sepasang batik dengan celana lusuh dan
kumal,
Ditambah
lagi sepatu yang dikenakannya, hanya
Fantofel
kuno yang mulai terkikis bagian depannya.
Ah,
sungguh perpaduan yang menawan bukan !!!
Namun apalah arti semua itu,
Justru perpaduan
indah yang menjadikan semangatnya berkobar
Dengan berbekal sejuta mimpi
Berangkat petang, pulang petang telah
dijalani
Ujian, tugas,revisi , telah
berkali-kali ia hadapi
Harapannya hanya satu !!! tahun ini,
Bisa memakai toga dengan menyandang
gelar sarjana
Apalagi dapat predikat Cumlaude, ???
Ah benar-benar kado yang istimewa.
Apa
kau penasaran dengan DIA ???
Ya,
dialah Pejuang Yudisium itu.
Sabilillah, 11 September
2015